Pusat Informasi Pariwisata
Destinasi Wisata Desa
Jelajahi keindahan alam, pesona, dan kekayaan budaya yang ada di Desa Kecupak 1.
Lokasi: Jln. Kecupak I
Lae Une
Air Terjun Lae Une merupakan salah satu objek wisata alam yang berada di Desa Kecupak I, Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Lokasinya berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Salak yang merupakan ibu kota Kabupaten Pakpak Bharat. Air terjun ini memiliki kondisi alam yang masih relatif alami dan belum banyak mendapatkan sentuhan pembangunan maupun penataan dari luar. Keadaan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang asri, sejuk, dan jauh dari keramaian. Air Terjun Lae Une dapat ditempuh sekitar 15 menit dari pusat Kota Salak menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sebagai salah satu objek wisata alam yang cukup dikenal oleh masyarakat lokal di Kabupaten Pakpak Bharat, Lae Une memiliki keindahan alam yang mampu menarik perhatian pengunjung. Hingga saat ini, pengunjung masih dapat memasuki kawasan Lae Une tanpa dikenakan pungutan retribusi. Meskipun fasilitas dan penataan kawasan wisata masih terbatas, kesejukan udara, aliran air yang jernih, serta suasana alam yang masih terjaga menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang berkunjung. Keindahan Air Terjun Lae Une memberikan pengalaman tersendiri bagi para pengunjung. Suasana yang sejuk dan tenang membuat pengunjung dapat menikmati waktu lebih lama di kawasan air terjun. Bagi masyarakat setempat, Lae Une bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga merupakan bagian dari lingkungan alam yang memiliki nilai sejarah dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan air terjun ini menjadi salah satu potensi wisata Desa Kecupak I yang perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian alam dan nilai budaya masyarakat setempat. SEJARAH AIR TERJUN LAE UNE BERDASARKAN LITERATUR Berdasarkan literatur yang membahas Potensi dan Strategi Pengembangan Objek Wisata Alam Air Terjun Lae Une di Kabupaten Pakpak Barat oleh Nadia Saputri Daulay dkk. (2023), Air Terjun Lae Une memiliki cerita rakyat yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat. Cerita tersebut menjadi salah satu bagian dari sejarah lisan yang melekat pada keberadaan Lae Une. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada zaman dahulu terdapat sepasang suami istri yang telah lama membina rumah tangga, tetapi belum dikaruniai keturunan. Karena keinginan untuk memiliki seorang anak, pasangan tersebut kemudian menyampaikan permohonan kepada penunggu Lae Une yang dalam cerita masyarakat dikenal dengan nama Siumang. Setelah bertemu dengan Siumang, permohonan pasangan tersebut diterima dengan sebuah persyaratan. Apabila kelak mereka dikaruniai seorang anak, pasangan tersebut harus memberikan sesajen berupa manuk mbettar (ayam), itak, dan sada minak kepada Siumang. Tidak lama kemudian, pasangan tersebut akhirnya dikaruniai seorang anak. Namun, setelah anak tersebut lahir, pasangan itu tidak memenuhi perjanjian yang sebelumnya telah disepakati. Kelalaian tersebut kemudian dipercaya menyebabkan Siumang murka dan mengambil kembali bayi yang telah dianugerahkan kepada pasangan tersebut. Kisah inilah yang dalam cerita rakyat setempat dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama Lae Une. KEPERCAYAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT Selain cerita mengenai asal-usul namanya, Lae Une juga memiliki berbagai cerita dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat percaya bahwa terdapat berbagai kejadian yang dianggap berada di luar nalar manusia di sekitar kawasan air terjun. Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah adanya penunggu Lae Une yang dipercaya secara rutin "memakan korban". Masyarakat juga mengisahkan bahwa terkadang terdengar suara tangisan bayi di sekitar kawasan air terjun. Kepercayaan tersebut telah menjadi bagian dari cerita yang berkembang di masyarakat, meskipun tidak semua masyarakat memiliki pandangan yang sama. Sebagian masyarakat menerima kisah tersebut sebagai bagian dari cerita rakyat dan kearifan lokal yang perlu diketahui oleh generasi berikutnya, sedangkan sebagian lainnya memandangnya sebagai mitos yang tidak dapat dibuktikan secara nyata. Seiring perkembangan zaman, cerita mengenai asal-usul dan kepercayaan yang berkaitan dengan Lae Une juga mulai semakin jarang dituturkan kepada generasi muda. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian cerita yang dahulu dikenal luas oleh masyarakat perlahan mulai kurang dikenal. PERISTIWA YANG MEMENGARUHI KEPERCAYAAN MASYARAKAT Kepercayaan masyarakat terhadap Lae Une juga semakin kuat setelah terjadinya sebuah peristiwa pada tahun 2021. Berdasarkan literatur Daulay dkk. (2023), pada tahun tersebut terjadi peristiwa seorang remaja yang tenggelam setelah terbawa arus deras di kawasan air terjun. Korban yang dalam sumber tersebut diduga bernama Riko Tumangger, berusia sekitar 20 tahun dan merupakan warga Kabupaten Pakpak Bharat, dilaporkan hilang setelah berenang di sekitar kawasan air terjun. Peristiwa tersebut kemudian semakin memperkuat anggapan sebagian masyarakat mengenai adanya kepercayaan bahwa Lae Une "meminta tumbal". Setelah kejadian tersebut, kunjungan wisatawan ke kawasan Lae Une disebut mengalami penurunan. Sebagian masyarakat menjadi lebih berhati-hati, bahkan merasa takut untuk berkunjung ke kawasan air terjun. Meskipun demikian, peristiwa tersebut juga menunjukkan pentingnya aspek keselamatan dan pengelolaan kawasan wisata, khususnya dalam memberikan informasi mengenai kondisi arus air dan potensi bahaya kepada para pengunjung. SEJARAH LAE UNE BERDASARKAN PENUTURAN MASYARAKAT Selain berdasarkan literatur, sejarah dan asal-usul Lae Une juga diperoleh melalui penuturan masyarakat setempat. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Tema Manik, warga Desa Kecupak I, nama Lae Une memiliki sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut penuturannya, nama asli aliran sungai yang membentang dari bagian hulu hingga hilir sebenarnya adalah Lae Leurdi. Nama tersebut juga disebut tercantum dalam peta wilayah. Sementara itu, sebutan Lae Une pada awalnya hanya digunakan untuk menyebut bagian air terjun yang terdapat di sepanjang aliran sungai tersebut. Seiring berjalannya waktu, nama Lae Une kemudian semakin dikenal dan digunakan dalam penamaan wilayah yang berkembang menjadi desa. Secara etimologis, nama Lae Une berasal dari bahasa Pakpak. Kata "Lae" memiliki arti air, sedangkan "Une" berkaitan dengan kata "unena" yang dalam penuturan masyarakat memiliki makna seperti "jadi begini", "demikianlah keputusannya", atau "berangkat dengan keputusan tersebut". Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat sebagai salah satu asal-usul penamaan Lae Une. Menurut cerita yang dituturkan oleh Bapak Tema Manik, pada masa lampau hiduplah seorang perempuan dari marga Manik yang dikenal dengan sebutan boru Manik. Perempuan tersebut sering mandi bersama teman-temannya di sebuah air terjun yang kini dikenal sebagai Air Terjun Lae Une. Pada masa itu, wilayah tersebut sedang mengalami peperangan antarkelompok. Seorang laki-laki dari kelompok lawan kemudian bermaksud untuk mempersunting boru Manik. Namun, sebelum pernikahan dapat dilaksanakan, terdapat sebuah kesepakatan yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. Ia harus terlebih dahulu mengalahkan seluruh musuh yang berada di wilayah tersebut sebagai syarat untuk memperoleh persetujuan atas rencana pernikahan. Menurut cerita yang disampaikan narasumber, laki-laki tersebut hampir berhasil memenuhi persyaratan tersebut. Akan tetapi, masih terdapat satu orang lawan yang tidak dapat dibunuh karena dalam cerita rakyat tersebut orang tersebut telah "bersembah". Berdasarkan adat dan kepercayaan yang berlaku pada masa itu, seseorang yang telah berada dalam keadaan tersebut tidak lagi diperbolehkan untuk dibunuh. Karena syarat yang telah disepakati tidak berhasil dipenuhi sepenuhnya, rencana pernikahan tersebut akhirnya dibatalkan. Setelah peristiwa itu, boru Manik memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan berangkat menuju Delang Singgabit. Keputusan untuk pergi atau "berangkat" inilah yang dalam bahasa Pakpak dikaitkan dengan istilah unena. Dari kata tersebut kemudian berkembang penyebutan Lae Une yang hingga saat ini dikenal sebagai nama air terjun dan kawasan di sekitarnya. Dengan demikian, berdasarkan penuturan masyarakat, nama Lae Une tidak hanya berkaitan dengan keberadaan air terjun, tetapi juga mengandung nilai historis dan budaya yang berkaitan dengan cerita masyarakat setempat. Perbedaan antara cerita yang terdapat dalam literatur dan cerita yang diperoleh melalui wawancara menunjukkan bahwa Lae Une memiliki kekayaan tradisi lisan yang berkembang dalam berbagai versi. Cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Desa Kecupak I dan merupakan warisan budaya yang penting untuk didokumentasikan agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. SUMBER Daulay, N. S., Purba, P. F., Banjarnahor, P. G., Ritonga, S. F. S., Ginting, Q., & Lubis, F. (2023). Potensi dan Strategi Pengembangan Objek Wisata Alam Air Terjun Lae Une di Kabupaten Pakpak Barat. Al-Hayat: Natural Sciences, Health & Environment Journal, 1(1), 12–25. https://doi.org/10.47467/alhayat.v1i1.1308 Wawancara dengan Bapak Tema Manik, warga Desa Kecupak I, Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat, 18 Juli 2026.