01
Arsip Sejarah & Budaya
Sejarah Desa Kecupak 1
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Tema Manik, nama Desa Kecupak I berasal dari istilah "Le Kecupak", yaitu nama sebuah sumber mata air yang telah dikenal masyarakat sejak masa lampau. Menurut penuturan beliau, istilah cupak dalam masyarakat Pakpak merujuk pada alat ukur tradisional yang digunakan untuk mengukur volume hasil pertanian, seperti padi atau beras. Oleh karena itu, penamaan Kecupak memiliki hubungan erat dengan kehidupan agraris masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian.
Bapak Tema Manik menjelaskan bahwa di lokasi yang kini menjadi Desa Kecupak I terdapat sebuah mata air yang oleh masyarakat disebut Le Kecupak. Keunikan mata air tersebut adalah debit airnya yang tetap stabil. Masyarakat meyakini bahwa meskipun air diambil berulang kali dalam jumlah yang banyak, volume air pada mata air tersebut tetap sama dan tidak pernah berkurang. Kondisi inilah yang kemudian dianalogikan dengan cupak, yaitu alat ukur tradisional yang memiliki ukuran tetap. Berdasarkan karakteristik tersebut, masyarakat kemudian menamai kawasan tersebut sebagai Kecupak, dan nama itu terus dipertahankan hingga menjadi nama desa sampai sekarang.
Selain berkaitan dengan alat ukur tradisional, istilah cupak dalam cerita masyarakat juga memiliki makna kesederhanaan. Bapak Tema Manik menjelaskan bahwa dalam ungkapan lama masyarakat Pakpak, kata cupak sering dikaitkan dengan kehidupan yang sederhana, hemat, dan apa adanya. Makna tersebut mencerminkan karakter masyarakat setempat yang hidup dari hasil pertanian dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Dengan demikian, nama Kecupak bukan hanya menunjukkan keberadaan sebuah mata air, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang berkembang di tengah masyarakat sejak masa lalu.
Bapak Tema Manik juga menegaskan bahwa sejarah Desa Kecupak I berbeda dengan sejarah Lae Une maupun Tradisi Menanda Tahun. Menurut beliau, ketiga sejarah tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Lae Une berkaitan dengan cerita rakyat mengenai asal-usul nama Leune, sedangkan Menanda Tahun merupakan tradisi adat yang berkembang sebagai upaya menyeragamkan waktu bercocok tanam serta mengurangi serangan hama. Adapun sejarah Desa Kecupak I berfokus pada asal-usul penamaan wilayah yang berasal dari mata air Le Kecupak dan alat ukur tradisional masyarakat Pakpak.
Selain sejarah nama desa, Bapak Tema Manik juga menjelaskan asal-usul beberapa dusun yang berada di wilayah Desa Kecupak I. Salah satunya adalah Dusun Nambunga Buluh, yang dinamai berdasarkan banyaknya serangga berwarna kuning yang dahulu hinggap di rumpun bambu (buluh). Serangga tersebut hanya akan terbang ketika terkena sinar matahari sehingga masyarakat menamainya Munga Buluh. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai nama dusun hingga saat ini. Di sisi lain, terdapat pula wilayah yang dahulu dikenal sebagai Pulau Namu, yaitu kawasan yang memiliki banyak genangan air menyerupai pulau kecil dan dipenuhi nyamuk. Kondisi geografis tersebut menjadi dasar penamaan wilayah oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan penuturan tersebut dapat dipahami bahwa sejarah Desa Kecupak I merupakan sejarah penamaan wilayah yang berakar pada kondisi alam, penggunaan alat ukur tradisional, serta pengalaman hidup masyarakat Pakpak. Penamaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas geografis, tetapi juga merepresentasikan hubungan erat antara masyarakat dengan lingkungan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka sejak masa lalu.
Sumber: Wawancara dengan Bapak Tema Manik, warga Desa Kecupak I, Kecamatan Pergettenggetteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat (rekaman audio, 18 Juli 2026).
Bapak Tema Manik menjelaskan bahwa di lokasi yang kini menjadi Desa Kecupak I terdapat sebuah mata air yang oleh masyarakat disebut Le Kecupak. Keunikan mata air tersebut adalah debit airnya yang tetap stabil. Masyarakat meyakini bahwa meskipun air diambil berulang kali dalam jumlah yang banyak, volume air pada mata air tersebut tetap sama dan tidak pernah berkurang. Kondisi inilah yang kemudian dianalogikan dengan cupak, yaitu alat ukur tradisional yang memiliki ukuran tetap. Berdasarkan karakteristik tersebut, masyarakat kemudian menamai kawasan tersebut sebagai Kecupak, dan nama itu terus dipertahankan hingga menjadi nama desa sampai sekarang.
Selain berkaitan dengan alat ukur tradisional, istilah cupak dalam cerita masyarakat juga memiliki makna kesederhanaan. Bapak Tema Manik menjelaskan bahwa dalam ungkapan lama masyarakat Pakpak, kata cupak sering dikaitkan dengan kehidupan yang sederhana, hemat, dan apa adanya. Makna tersebut mencerminkan karakter masyarakat setempat yang hidup dari hasil pertanian dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Dengan demikian, nama Kecupak bukan hanya menunjukkan keberadaan sebuah mata air, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang berkembang di tengah masyarakat sejak masa lalu.
Bapak Tema Manik juga menegaskan bahwa sejarah Desa Kecupak I berbeda dengan sejarah Lae Une maupun Tradisi Menanda Tahun. Menurut beliau, ketiga sejarah tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Lae Une berkaitan dengan cerita rakyat mengenai asal-usul nama Leune, sedangkan Menanda Tahun merupakan tradisi adat yang berkembang sebagai upaya menyeragamkan waktu bercocok tanam serta mengurangi serangan hama. Adapun sejarah Desa Kecupak I berfokus pada asal-usul penamaan wilayah yang berasal dari mata air Le Kecupak dan alat ukur tradisional masyarakat Pakpak.
Selain sejarah nama desa, Bapak Tema Manik juga menjelaskan asal-usul beberapa dusun yang berada di wilayah Desa Kecupak I. Salah satunya adalah Dusun Nambunga Buluh, yang dinamai berdasarkan banyaknya serangga berwarna kuning yang dahulu hinggap di rumpun bambu (buluh). Serangga tersebut hanya akan terbang ketika terkena sinar matahari sehingga masyarakat menamainya Munga Buluh. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai nama dusun hingga saat ini. Di sisi lain, terdapat pula wilayah yang dahulu dikenal sebagai Pulau Namu, yaitu kawasan yang memiliki banyak genangan air menyerupai pulau kecil dan dipenuhi nyamuk. Kondisi geografis tersebut menjadi dasar penamaan wilayah oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan penuturan tersebut dapat dipahami bahwa sejarah Desa Kecupak I merupakan sejarah penamaan wilayah yang berakar pada kondisi alam, penggunaan alat ukur tradisional, serta pengalaman hidup masyarakat Pakpak. Penamaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas geografis, tetapi juga merepresentasikan hubungan erat antara masyarakat dengan lingkungan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka sejak masa lalu.
Sumber: Wawancara dengan Bapak Tema Manik, warga Desa Kecupak I, Kecamatan Pergettenggetteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat (rekaman audio, 18 Juli 2026).